Senin, 27 Mei 2013

Ayah dan anaknya

Hai kak, malam ini aku ingin cerita..

Beberapa waktu lalu datang seorang pria dengan seorang bayi dalam pelukannya. Ia mengeluh anaknya yg tampak sangat kurus itu menderita diare beberapa hari ini.

Dengan sigap kami memberikan resep, dan menyarankan anak itu untuk dirawat.

Sang ayah menyanggupi dengan panik ia pergi ke apotik IGD. Sayangnya ia kembali begitu cepat karena ia tidak punya uang menebus obatnya.

Obatnya pun kami ubah, hanya yang terpenting yang diresepkan. Ia pergi dan membeli beberapa cairan infus untuk menggantikan diare anaknya yg ternyata menderita gizi buruk.

Uang kembalinya ia gunakan untuk mendaftar kamar 1 malam di rumah sakit.

Semua orang iba, termasuk aku.

Kisahnya pun aku gali lebih dalam "istri bapak dimana?" Ia menjawab "istri saya di rumah, ia terkena gangguan jiwa, jadi tidak sanggup mengurus anaknya". Aku terdiam.
"Bapak kerjanya apa?"
"Saya pemulung sampah" katanya, aku kembali terdiam.

"Pembayaran bapak dengan apa? Punya jaminan kesehatan nggak?"
"Saya nggak tahu tentang itu, saya belum ngurus. Kalau saya ngurus ke RT, RW, anak saya ama siapa dok? Saya ke sini modal 100.000 ngutang sama tetangga buat obat sama buat kamar. Kira-kira dirawatnya berapa lama ya?"

"Belum tahu pak, kita tunggu perbaikan anak bapak, baru kita bisa tentukan. Semoga 2-3 hari ini ya"

Aku pun meninggalkannya dalam diam. Berjalan menuju.

Hai kak, ini dunia. Ada yang begitu di atas, ada yang begitu di bawah. Aku tidak mampu katakan apapun selain syukur. Coba kakak tahu ya, kira-kira kakak akan bilang apa?

Beberapa hari kemudian, anaknya membaik, aku pun turut senang. Oleh karena aku juga harus pindah RS, aku sempat menjenguknya terakhir kali dan memberikan sejumlah uang tunai untuk pengobatannya.

Hari itu aku baru sadar, uang yang aku berikan tidak akan menyelesaikan apapun. Aku hanya meringankan penderitaannya begitu sebentar, esok hari ia pasti kesusahan lagi.

Hari ini aku mengerti tentang pentingnya makelar sedekah. Andai saja aku orang yang punya kekuatan lebih, mungkin aku bisa katakan pada twitter atau FB, dan bantuan untuknya bisa datang lebih banyak. Bagaimanapun bersama selalu lebih baik kan, kak..

Oya, terlepas dari itu, aku pun berharap suatu hari nanti aku bisa cukup punya kuasa, punya cukup kekuatan, sehingga aku bisa memberikannya pekerjaan yang lebih baik, atau aku bisa memberikan kesejahteraan yang lebih baik,

bagaimanapun kemudahan pemberian uang tidak memberikannya pelajaran untuk jadi lebih baik kan..

Hum.. Aku berharap bisa cerita ini sama kakak, dan mendengar tentang apa yang akan kakak sampaikan. Kalaupun tidak, aku berharap kakak jadi pembaca ya. :)
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar